<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pdi perjuangan Archives - Suara Bawah</title>
	<atom:link href="https://suarabawah.id/tag/pdi-perjuangan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabawah.id/tag/pdi-perjuangan/</link>
	<description>Suara Kedaulatan Rakyat</description>
	<lastBuildDate>Fri, 15 Sep 2023 01:09:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://suarabawah.id/wp-content/uploads/2023/06/cropped-SB-32x32.png</url>
	<title>pdi perjuangan Archives - Suara Bawah</title>
	<link>https://suarabawah.id/tag/pdi-perjuangan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Panda Nababan: “Mulai hari ini, stop bicara soal Gibran!</title>
		<link>https://suarabawah.id/bawah-tanah/panda-nababan-mulai-hari-ini-stop-bicara-soal-gibran/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=panda-nababan-mulai-hari-ini-stop-bicara-soal-gibran</link>
					<comments>https://suarabawah.id/bawah-tanah/panda-nababan-mulai-hari-ini-stop-bicara-soal-gibran/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Utami Putri]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 Sep 2023 01:09:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bawah Tanah]]></category>
		<category><![CDATA[gibran]]></category>
		<category><![CDATA[pdi perjuangan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabawah.id/?p=679</guid>

					<description><![CDATA[<p>Stop bicara soal Gibran!</p>
<p>The post <a href="https://suarabawah.id/bawah-tanah/panda-nababan-mulai-hari-ini-stop-bicara-soal-gibran/">Panda Nababan: “Mulai hari ini, stop bicara soal Gibran!</a> appeared first on <a href="https://suarabawah.id">Suara Bawah</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ungkapan itu diucapkan dengan sangat serius dan dengan muka tegang dalam di acara Indonesia Lawyers Club, yang diunggah di Youtube ILC pada Kamis, 14 September 2023.</p>
<p>Tajuk ILC itu sendiri adalah <strong><em>“Berebut Kursi Wapres, Siapa Bakal Tersingkir?”</em></strong> Selain Panda Nababan, sejumlah tokoh hadir, termasuk misalnya Nusron Wahid. Nusron sendiri bicara di sesi terakhir.</p>
<p>Komentar bernada keras Panda itu dilakukan karena para pembicara sebelumnya, banyak yang mengaitkan kemungkinan Gibran Rakabuming, Walikota Solo sekaligus anak pertama Presiden Jokowi, sebagai salah satu calon terkuat untuk mendampingi Prabowo Subiyanto. Tentu saja hal itu dengan syarat Mahkamah Konstitusi mengabulkan gugatan ambang batas usia capres-cawapres yang sebelumnya dipatok minimal berusia 40 tahun.</p>
<p>Menurut Panda, membicarakan kemungkinan Gibran menjadi wakil Prabowo adalah sebuah upaya pembodohan publik. “Bagaimana bisa? Gibran itu kader PDIP, menjadiil walikota karena dicalonkan oleh <a href="https://suarabawah.id/fakta/itulah-karakter-khas-politik-pdip-membalas-air-susu-dengan-air-tuba-tanggapan-untuk-adian-napitupulu/" target="_blank" rel="noopener">PDIP</a>, bapaknya juga kader PDIP. Jangan hal seperti ini diomongkan terus, karena itu pembodohan!”</p>
<p>Andre Rosiade yang juga hadir di acara tersebut dan mendapatkan waktu berbicara setelah Panda, tak menampik bahwa memang nama Gibran masuk dalam radar Gerindra sebagai bakal calon wakil presiden yang mendampingi Prabowo. Selain itu ada kemungkinan juga Erick Thohir yang diusung PAN, atau Airlangga Hartarto yang diusung Partai Golkar.</p>
<p>Dalam pernyataannya itu, Andre juga sempat menyindir Panda. “Bagi Opung (panggilan akrab Panda, red), Gibran itu ingusan. Tapi bagi kami, Gibran itu punya potensi menjadi calon pemimpin masa depan.”</p>
<p>Tapi tampaknya sindiran Andre itu tidak terlalu ditanggapi oleh politikus gaek dari PDIP itu. Sesekali Panda malah nyeletuk soal lain, “Ya, PDIP kan belum pernah ditinggal partai koalisinya…” Sontak komentar itu menuai tawa dari para pembicara.</p>
<p>Memang Gibran terus mendapatkan sorotan dari publik karena selain makin banyak pendukungnya, sosok muda ini dianggap cukup berhasil dalam memimpin Solo. Bahkan beberapa pengamat memuji keberanian dan gaya bapak dari Jan Ethes itu.</p>
<p>Polemik tentang Gibran memang tak akan terhindarkan. Sampai kelak akan ada keputusan dari Mahkamah Konstitusi.</p>
<p>Hanya saja menurut pengamat politik Yunanto Wijaya, meragukan apakah jika MK mengabulkan gugatan tersebut otomatis akan membuat Gibran bakal jadi wakil dari Prabowo. “Pak Jokowi bakal berhitung cermat. Kalau selisih Prabowo dengan Ganjar tipis, dia tidak akan mengizinkan Gibran maju. Risikonya terlalu besar.”</p>
<p>Mari kita lihat, bagaimana keputusan MK, dan apakah jika MK mengabulkan gugatan soal ambang batas usia capres-cawapres, akan membuat Gibran bakal benar-benar mendampingi Prabowo, atau Walikota Solo itu akan tetap setiap kepada PDIP.</p>
<p>Namun yang menarik dalam acara tersebut ada pada sesi terakhir, ketika Nusron Wahid bicara. Menurut politikus Partai Golkar itu, kontestasi Pilpres di Indonesia sebetulnya cukup diselesaikan oleh tiga orang: Presiden Jokowi, Megawati, dan Prabowo.</p>
<p>“Kalau mereka duduk bareng, misalnya lalu Presiden meminta Bu Mega agar Ganjar bersedia jadi wakil Prabowo, lalu Bu Mega setuju, ya sudah. Kelar semua urusan ini.”</p>
<p>Panda lalu menyahut, “Tidak mungkin itu terjadi! Ngawur itu!”</p>
<p>Tapi saling bantah ringan itu tetap dengan nada tawa. Tidak benar-benar bersitegang.</p>
<p>Nusron juga membuat lelucon yang bikin Karni Ilyas selaku host ILC memerah mukanya sambil menahan tawa. Nusron bilang, “Kalau Bu Mega bilang wakil <a href="https://suarabawah.id/versus/bocoran-politik-koalisi-di-tiga-bacapres-terancam-bubar/" target="_blank" rel="noopener">Pak Ganjar</a> adalah Karni Ilyas, maka Karni Ilyas-lah yang akan jadi wakil Ganjar. Tidak mungkin Pak Panda Nababan bisa membantah Bu Mega!”</p>
<p>Hadirin tertawa dan bertepuk tangan dengan riuh. Harusnya memang politik seperti itu. Tidak usah terlalu tegang.</p>
<p>The post <a href="https://suarabawah.id/bawah-tanah/panda-nababan-mulai-hari-ini-stop-bicara-soal-gibran/">Panda Nababan: “Mulai hari ini, stop bicara soal Gibran!</a> appeared first on <a href="https://suarabawah.id">Suara Bawah</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://suarabawah.id/bawah-tanah/panda-nababan-mulai-hari-ini-stop-bicara-soal-gibran/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Itulah Karakter Khas Politik PDIP: Membalas Air Susu Dengan Air Tuba (Tanggapan untuk Adian Napitupulu)</title>
		<link>https://suarabawah.id/fakta/itulah-karakter-khas-politik-pdip-membalas-air-susu-dengan-air-tuba-tanggapan-untuk-adian-napitupulu/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=itulah-karakter-khas-politik-pdip-membalas-air-susu-dengan-air-tuba-tanggapan-untuk-adian-napitupulu</link>
					<comments>https://suarabawah.id/fakta/itulah-karakter-khas-politik-pdip-membalas-air-susu-dengan-air-tuba-tanggapan-untuk-adian-napitupulu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ragil Nugroho]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 May 2023 00:57:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fakta]]></category>
		<category><![CDATA[pdi perjuangan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabawah.id/?p=586</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jokowi berbeda dengan Joko Tingkir. Bila Joko Tingkir masih keturunan darah biru sehingga wajar menjadi Sultan Pajang, Jokowi bisa dikatakan keturunan Lembu Peteng. Seperti diketahui, Lembu Peteng untuk menggambarkan garis keturunan yang misterius. Sampai sekarang masih banyak yang memperdebatkan tentang sosok ayah Jokowi. Sederet tokoh Lembu Peteng dari Ken Arok sampai Soeharto pernah sebagai penguasa. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://suarabawah.id/fakta/itulah-karakter-khas-politik-pdip-membalas-air-susu-dengan-air-tuba-tanggapan-untuk-adian-napitupulu/">Itulah Karakter Khas Politik PDIP: Membalas Air Susu Dengan Air Tuba &lt;em&gt;(Tanggapan untuk Adian Napitupulu)&lt;/em&gt;</a> appeared first on <a href="https://suarabawah.id">Suara Bawah</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://suarabawah.id/bawah-tanah/tentang-jokowisme/" target="_blank" rel="noopener">Jokowi</a> berbeda dengan Joko Tingkir. Bila Joko Tingkir masih keturunan darah biru sehingga wajar menjadi Sultan Pajang, Jokowi bisa dikatakan keturunan Lembu Peteng. Seperti diketahui, Lembu Peteng untuk menggambarkan garis keturunan yang misterius. Sampai sekarang masih banyak yang memperdebatkan tentang sosok ayah Jokowi. Sederet tokoh Lembu Peteng dari Ken Arok sampai Soeharto pernah sebagai penguasa. Sosok Lembu Peteng inilah yang tidak dipahami anak kota seperti Adian Napitupulu. Tak mengherankan ia mendaku lima kali kemenangan Jokowi karena PDIP.</p>
<p>Jokowi lahir dari keluarga biasa-biasa saja, tak ada darah biru menetes dalam dirinya. Orangtuanya bisa digolongkan bagian dari Abangan, dibanding Santri atau Priyayi.<br />
Dalam masyarakat di pedesaan, kaum Abangan ini cukup banyak walaupun tidak pernah unjuk diri. Sebagaimana disampaikan Geertz dalam bukunya yang melegenda &#8220;The Religion of Java&#8221;, kaum abangan merupakan entitas masyarakat &#8220;yang mewakili suatu titik berat pada aspek animistis dari sinkritisme Jawa&#8221;. Mereka ini dalam masyarakat sebagian besar adalah kaum petani yang hidup di pedesaan. Jokowi hidup dalam kultur Abangan seperti itu.</p>
<blockquote><p>Sebagai bagian dari kaum Abangan, Jokowi tumbuh menjadi borjuasi. Pendidikan di universitas mendorongnya tumbuh menjadi borjuasi lokal pada zaman Orde Baru. Bila sebagian borjuasi di Indonesia mempunyai koneksi dengan kekuasaan rezim Soeharto, Jokowi tumbuh di luar lingkaran itu.</p></blockquote>
<p>Sebagai pengusaha mebel ia membangun basis ekonominya dan membangun jaringan perkawanan. Ketika maju dalam pilkada Solo, ia bukan politikus. Kemampuan negoisasinya ditempa ketika ia sebagai pengusaha. Sebagai Abangan, ia mampu mengkonsolidasikan kelompok Santri perkotaan yaitu PKS dan kelompok Kristen Perkotaan yang terwadahi oleh PDS. Jadi tak benar jika hanya PDIP yang membawananya dua kali kemenangan dalam Pilkada Solo.</p>
<p>Dari Solo inilah ia mulai membangun citra dirinya sebagai borjuasi yang luwes dalam berpolitik. Ia tampil sebagai kepala daerah ditingkat lokal yang mengedapakan negoisasi dan diolog dalam menata kotanya. Salah satu contohnya adalah pemindahan pedagang kaki lima di Monumen 45 Banjarsari. Lewat 57 kali upaya dialog lewat makan siang akhirnya pemindahan PKL bisa dilakukan dengan damai. Sebagai Abangan, Jokowi tidak melupakan tradisi. Sebagaimana pemindahan ibu kota Surakarta dari Kertasura ke Solo, Jokowi menggelar arak-arakan dalam pemindahan PKL tersebut. Dengan begitu para PKL merasa diperlakukan sebagai manusia terhormat.</p>
<p>Sebagai walikota, Jokowi berani berhadapan dengan pemimpin di atasnya dalam membela kepentingan warganya. Ia menolak rencana Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo dalam rencana pembangunan mal dibekas pabrik es Saripetojo. Penolakan Jokowi untuk membatasi maraknya pasar modern dan melindungi pasar tradisional. Sebagai seorang pensiunan jendral, tentu Bibit Waluyo bereaksi keras. Sebagai Abangan, Jokowi menghadapi serangan tersebut tidak dengan frontal, melainkan dengan sikap &#8220;andhap asor&#8221; / rendah hati dengan memangku Bibit Waluyo. Sikap seperti ini menimbulkan simpati publik. Sebagai anak kota, Adian Napitupulu tak akan bisa memahami hal seperti itu. Karena apa? Tangannya bersih dari lumpur tanah petani dan tak pernah bersuka cita seperti anak-anak kampung melihat bulan purnama.</p>
<p>Kemenangan dalam Pilkada Jakarta dan Pilpres hanya masalah waktu saja. Wahyu keprabon sudah menaunginya. Pilkada Jakarta jelas bukan peran PDIP semata. Ada peran Jendral penunggang kuda, Prabowo Subianto, yang selalu menjadi bahan serangan Adian yang hanya muncul setiap lima tahun sekali. Gerindra merupakan penyokong utama Jokowi dalam Pilkada Jakarta. Entah mengapa saat Prabowo mendukung Jokowi, Adian sebagai aktivis sejati tidak berteriak lantang agar Jokowi menarik garis tegas dengan Prabowo sebagai jendral Orde Baru. Sepertinya saat itu mulut Adian sedang terkunci entah oleh apa.</p>
<div id="attachment_588" style="width: 860px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-588" class="wp-image-588 size-full" src="https://suarabawah.id/wp-content/uploads/2023/05/809219_1200.jpeg" alt="PDI Perjuangan" width="850" height="567" srcset="https://suarabawah.id/wp-content/uploads/2023/05/809219_1200.jpeg 850w, https://suarabawah.id/wp-content/uploads/2023/05/809219_1200-300x200.jpeg 300w, https://suarabawah.id/wp-content/uploads/2023/05/809219_1200-768x512.jpeg 768w" sizes="(max-width: 850px) 100vw, 850px" /><p id="caption-attachment-588" class="wp-caption-text">PDI Perjuangan</p></div>
<p>Momen Pilkada sebetulnya bukan momentum parpol, tetapi momentum kemunculan relawan. Munculnya relawan baju kotak kotak merupakan hal baru dalam perpolitikan Indonesia. Bukan struktur partai yang bergerak, melainkan struktur relawan. Partai hanya pemegang stempel semata, sementara relawanlah yang melakukan pengorganisian di basis massa. Ini pula modal Jokowi memenangkan dua kali memenangkan Pilpres. Relawan adalah sekoci-sekoci Jokowi untuk mengantarkannya menuju Istana. Dalam Pilpres, suara Jokowi 2 kali lipat suara PDIP dalam Pileg. Sekali lagi, peran PDIP hanya memberikan stempel belaka. Bila PDIP tidak mendukung sekalipun, Jokowi akan tetap melenggang ke Istana. Seorang yang telah dinaungi wahyu keprabon tidak bisa dihambat oleh siapapun, apalagi hanya seorang aktivis sejati seperti Adian Napitupulu.</p>
<p>Berkebalikan dengan Jokowi, Megawati kalah melulu. Ia jelas bukan keturunan Lembu Peteng. Ada trah darah biru di darahnya. Dalam Pilpres 1999, Megawati dikalahkan oleh Gus Dur ( yang menurut Gus Dur sendiri memiliki trah Lembu Peteng). Seperti Jokowi, Gus Dur lebih piawai menggalang kekuatan politik di Senayan dibandingkan Megawati. Akibatnya, Megawati kalah telak dan diberi &#8220;hadiah&#8221; menjadi wakil presiden. Dan, Megawati kelak menjadi presiden karena warisan dari Gus Dur. Terbukti, ketika ia harus memperebutkan sendiri jabatan presiden, dua kali ia disleding oleh Susilo Bambang Yudhoyono. Bila PDIP kuat sebagaimana didaku Adian, tentu akan bisa dengan mudah bisa mengalahkan SBY. Menariknya, ketika dua kali kalah dari SBY, Megawati berpasangan dengan Prabowo. Dan Adian diam dua ribu kata sehingga tidak mengingatkan Megawati agar tidak perpasangan dengan jendral pelanggar HAM seperti Prabowo. Mungkin saat itu kaset Adian sedang rusak sehingga tidak bisa diputar.</p>
<p>Tiga kali kekalahan <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Megawati_Soekarnoputri" target="_blank" rel="noopener">Megawati</a> ini merupakan hal yang memalukan dalam sejarah PDIP. Sebagai partai yang mendaku kuat secara ideologi, politik dan organisasi sertai konon sebagai partai wong cilik, tak mampu mengantarkan Ketua Umumnya menjadi presiden. Untung muncul sosok Jokowi yang mampu menyelamatkan PDIP sehingga menutupi kemaluan Banteng Moncong Putih. Tanpa ada Jokowi, PDIP akan tetap di pojok kekuasaan, sebagai partai yang tak pernah mampu menaikkan Ketua Umumnya sebagai presiden, hingga hari ini. Bukan PDIP yang berjasa kepada Jokowi, namun Jokowilah yang berjasa buat PDIP. Dan balasan terhadap jasa Jokowi tersebut justru pengkhianatan terhadap Jokowi, yang terannyar adalah pengkhianatan dalam penyelenggaran Piala Dunia U 20.</p>
<p>Itulah karakter khas politik PDIP: membalas air susu dengan air tuba. Inilah yang dibanggakan setinggi langit 7 oleh aktivis sejati Adian Napitupulu. *</p>
<p>The post <a href="https://suarabawah.id/fakta/itulah-karakter-khas-politik-pdip-membalas-air-susu-dengan-air-tuba-tanggapan-untuk-adian-napitupulu/">Itulah Karakter Khas Politik PDIP: Membalas Air Susu Dengan Air Tuba &lt;em&gt;(Tanggapan untuk Adian Napitupulu)&lt;/em&gt;</a> appeared first on <a href="https://suarabawah.id">Suara Bawah</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://suarabawah.id/fakta/itulah-karakter-khas-politik-pdip-membalas-air-susu-dengan-air-tuba-tanggapan-untuk-adian-napitupulu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
